Kota Bandung
kembali menegaskan reputasinya sebagai pusat kreativitas Asia Tenggara lewat
gelaran Bandung Design Biennale 2025, yang berlangsung dari 3 Oktober hingga 25
Oktober 2025 di kawasan kreatif Tamansari Laswi. Ajang dua tahunan ini menjadi
wadah pertemuan antara seniman, desainer, arsitek, dan inovator dari berbagai
negara untuk merayakan gagasan, eksplorasi, dan kolaborasi lintas disiplin.
Tahun ini,
Bandung Design Biennale menampilkan semangat yang lebih terbuka dan
kolaboratif, tak hanya melibatkan pelaku desain dari Indonesia, acara ini juga
diikuti oleh kreator dari negara tetangga seperti Malaysia, Thailand,
Singapura, dan Vietnam. Dengan memadukan desain
industri, seni instalasi, dan inovasi teknologi, event ini memperlihatkan
bagaimana desain bukan sekadar soal estetika, tetapi juga sarana untuk memahami
perubahan sosial dan kebutuhan manusia di era modern.
Begitu memasuki
area Tamansari Laswi, pengunjung langsung disambut oleh deretan rangkaian
eksperimental yang menembus batas antara fungsi dan ekspresi. Ada kursi yang
terbuat dari limbah bambu hasil riset material, ruang interaktif berbasis
sensor cahaya, hingga serangkaian urban yang memetakan cara masyarakat memaknai
ruang kota. Setiap karya menawarkan perspektif unik tentang bagaimana desain
bisa berperan dalam menciptakan masa depan yang lebih inklusif dan
berkelanjutan.
Yang menarik,
Bandung Design Biennale 2025 tidak hanya berfokus pada pameran, tetapi juga
membuka ruang diskusi, lokakarya, dan forum ide. Para pengunjung, termasuk
pelajar dan mahasiswa, bisa mengikuti sesi berbagi pengalaman dari para
praktisi desain ternama. Di sinilah desain dipahami bukan sebagai produk akhir,
tetapi sebagai proses berpikir yang menghubungkan manusia, lingkungan, dan
teknologi.
Lebih jauh lagi, Bandung Design Biennale 2025 menunjukkan
bahwa desain adalah bahasa universal. Ia menghubungkan budaya, mempertemukan
cara pandang, dan mendorong kolaborasi lintas negara. Dalam konteks global yang
penuh tantangan, kreativitas menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih
manusiawi.
Dengan atmosfer
yang hidup dan gagasan yang berani, perhelatan ini tidak hanya merayakan karya
desain, tetapi juga menegaskan posisi Bandung sebagai “kota ide” — tempat di
mana masa depan dibayangkan lewat bentuk, warna, dan ruang.
(Sumber gambar: en.vietnamplus.vn)