Semarang, 4 April 2026 — Peran seni sebagai media awal dalam mengekspresikan emosi menjadi sorotan dalam kegiatan Artist Talk bertajuk “Patchwork Workinside The Loops” yang diselenggarakan pada Sabtu (4/4). Hal tersebut disampaikan oleh Brigitan Argasiam, dosen psikologi dari Universitas AKI.
Dalam pemaparannya, Brigitan menjelaskan bahwa seni dapat menjadi alternatif bagi individu yang sedang mengalami beban emosional. Melalui aktivitas seperti menggambar, melukis, atau bentuk ekspresi kreatif lainnya, seseorang dapat mulai menyalurkan dan mengenali perasaan yang selama ini terpendam.
“Seni bisa dijadikan pilihan sebagai alternatif ketika kita sedang merasakan sesuatu. Namun, jika sudah dicurahkan melalui journaling atau karya seni dan masih belum merasa lega, sebaiknya segera berkonsultasi dengan psikolog. Jadi, seni ini digunakan sebagai media pembuka,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa meskipun seni memiliki fungsi sebagai sarana penyaluran emosi, langkah lanjutan tetap diperlukan apabila seseorang belum mendapatkan kelegaan. Dalam kondisi tersebut, bantuan profesional dinilai penting untuk membantu proses pemahaman serta penanganan yang lebih mendalam dan tepat.
Menurut Brigitan, seni sebaiknya dipahami sebagai pintu awal dalam mengenali dan mengekspresikan perasaan, bukan sebagai satu-satunya solusi dalam menjaga kesehatan mental. Pendekatan ini dinilai penting agar individu tidak berhenti pada tahap ekspresi, tetapi juga melanjutkan pada proses pemulihan yang lebih komprehensif.
Melalui pandangan tersebut, kegiatan ini tidak hanya menghadirkan diskusi seni, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai keterkaitan antara ekspresi kreatif dan kesehatan psikologis. Diharapkan, masyarakat makin terbuka untuk memanfaatkan seni sebagai media refleksi sekaligus tidak ragu mencari bantuan profesional ketika dibutuhkan.