Seni sering kali menjadi cermin dari realitas yang pahit. Hal ini tercermin kuat dalam karya Nurida Akbar, salah satu seniman yang berpartisipasi dalam Mini Mural Fest 2026 di Semarang. Melalui medium dinding, mahasiswa seni rupa Unnes ini membawa keresahan warga Sayung, Demak, yang selama bertahun-tahun harus berkompromi dengan bencana banjir rob.
Karyanya menampilkan sosok manusia berkepala pot besi karat yang sedang memancing, ditemani dua ekor bebek. Simbol bebek ini bukan tanpa alasan; ia merupakan metafora bagi masyarakat pesisir yang dipaksa bertahan hidup di dua alam—darat dan air—akibat perubahan lingkungan yang ekstrem. Pesan ini menjadi kritik tajam sekaligus pengingat bagi publik mengenai kondisi ekologis yang kian mengkhawatirkan di wilayah utara Jawa.
Bagi Nurida, tantangan dalam berkarya bukan hanya soal menyuarakan isu, tetapi juga menaklukkan media tembok yang tidak rata, kabel-kabel yang melintang, hingga faktor cuaca. Namun, hambatan teknis tersebut justru memperkuat narasi perjuangannya. Ke depan, konsistensi untuk mengangkat tema lingkungan diharapkan dapat terus menyuarakan nasib wilayah-wilayah yang terdampak perubahan iklim, menjadikan mural sebagai pengingat yang tetap kokoh meski dihantam hujan dan waktu.
(Sumber gambar: rri.co.id)