Setelah sebelas tahun vakum, Pasar Seni ITB kembali digelar pada 18
dan 19 Oktober 2025 dengan meriah. Ratusan ribu pengunjung memadati area kampus
Institut Teknologi Bandung yang disulap menjadi ruang terbuka penuh warna,
kreativitas, dan ide segar dari mahasiswa maupun dosen. Di tengah ratusan stan
yang menjajakan karya seni rupa, musik, dan desain, ada satu stan yang paling
mencuri perhatian publik, yakni stan milik Kelompok Keilmuan Literasi Budaya
Visual (KKLBV) dari Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB.
Stan ini bukan sekadar tempat jualan karya, tapi sebuah ruang
gagasan. Mereka menghadirkan konsep satir bertajuk “Penjualan Ijazah Sehari”.
Pengunjung yang datang bisa membeli selembar ‘ijazah’ dari kampus fiktif
bernama Institut Pasar Seni Indonesia,
lengkap dengan tanda tangan ‘rektor’ dan ‘dekan’ fiktif. Harga ijazahnya pun
simbolis, sekitar belasan ribu rupiah. Namun yang dijual bukan sekadar kertas,
melainkan refleksi sosial tentang bagaimana masyarakat memaknai gelar dan
pendidikan formal sebagai simbol prestise dan legitimasi pengetahuan.
Lewat karya ini, para seniman dan akademisi ITB ingin mengajak
publik berpikir kritis. Di era digital yang serba instan, nilai pendidikan
sering kali diukur dari selembar kertas, bukan dari proses belajar yang
sesungguhnya. Satir ini menyoroti fenomena sosial tentang ‘jual-beli gelar’ dan
krisis kejujuran akademik yang marak diperbincangkan di masyarakat. Dengan gaya
humor yang cerdas, stan ini memancing tawa sekaligus renungan.
Suasana di sekitar stan begitu hidup. Banyak pengunjung yang antre
untuk membeli ijazah sambil berdiskusi dengan penjaga stan mengenai makna di
balik karya tersebut. Tidak sedikit yang menjadikan stan ini sebagai latar
foto, karena tampilannya unik dan penuh elemen visual khas dunia akademik yakni
meja pendaftaran, toga, hingga papan nama universitas fiktif.
Stan “Penjualan Ijazah Sehari” menjadi bukti bahwa seni tidak hanya
berhenti pada estetika, tetapi juga bisa menjadi medium kritik sosial yang
elegan dan komunikatif. Lewat parodi yang cerdas, KKLBV ITB berhasil mengubah
isu serius menjadi bahan refleksi publik yang ringan, jenaka, namun bermakna.
Pasar Seni ITB 2025 pun bukan sekadar festival seni, tetapi juga
ruang dialog antara seniman, akademisi, dan masyarakat tentang makna kejujuran,
pendidikan, dan kreativitas di tengah realitas yang semakin absurd.
(Sumber gambar: kabarkampus.com)