Luka sering kali datang tanpa diduga. Ia
meninggalkan rasa takut, rapuh, bahkan membuat seseorang merasa seolah dunia di
sekitarnya ikut runtuh. Perasaan itu tergambar dalam karya digital berjudul Retak
karya Fiesta Pasha dalam pameran tunggalnya yang bertajuk Kedamaian yang
Luruh.
Karya berukuran 50 x 70 sentimeter ini
menampilkan sosok perempuan yang duduk di atas hamparan tanah yang kering dan
retak. Tanah yang terbelah-belah menjadi simbol dari luka dan trauma yang
pernah mengguncang kehidupannya. Retakan tersebut menggambarkan betapa beratnya
pengalaman yang harus ia hadapi.
Namun, karya ini tidak hanya berbicara tentang
kehancuran. Di balik langit yang gelap, terlihat cahaya yang menembus ke
permukaan bumi. Cahaya itu jatuh tepat di antara celah-celah tanah yang retak,
menciptakan suasana yang penuh makna.
Melalui visual sederhana ini, Fiesta Pasha
ingin menunjukkan bahwa luka tidak selalu menjadi akhir dari segalanya. Justru
dari retakan itulah cahaya bisa masuk. Rasa sakit yang pernah dialami dapat
menjadi titik awal untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat.
Karya Retak mengajak penonton untuk
melihat bahwa kehidupan tidak selalu berjalan mulus. Ada masa ketika seseorang
harus menghadapi kehancuran. Namun selama masih ada cahaya harapan, selalu ada
kemungkinan untuk bangkit dan memulai kembali perjalanan hidup.
(Sumber gambar: katalog karya pameran
”kedamaian yang luruh”)