Memahami sejarah kolonialisme tidak selalu harus melalui buku teks
yang tebal. Perupa Airlangga Satryatama Wisnumurti, dalam pameran tunggalnya
yang bertajuk "Unspoken: Antara Ingatan dan Imajinasi",
menawarkan perspektif baru melalui rangkaian karya berjudul "How It Go,
How It Ends". Karya tahun 2024 ini merupakan seri lima lukisan akrilik di atas kanvas
berukuran 15 x 15 cm yang merekam evolusi penjajahan di Nusantara.
Rangkaian ini secara kronologis memotret
bagaimana motif ekonomi perlahan bergeser menjadi hasrat penguasaan wilayah.
Narasi dimulai dari kedatangan penjelajah yang didorong rasa ingin tahu dan
perdagangan rempah. Perjalanan berlanjut pada momen perjumpaan di pasar
pribumi, yang kemudian berubah menjadi perhitungan politik untuk menguasai
celah kekuasaan. Klimaks dari seri ini menggambarkan kekerasan terbuka sebagai
alat legitimasi ambisi penjajah.
Hal yang paling menarik adalah penutup dari
rangkaian ini. Lukisan kelima tidak menyajikan akhir yang bahagia, melainkan
sebuah "kedamaian sementara" atau jeda yang rapuh. Airlangga melalui
karyanya ingin mengingatkan kita bahwa kolonialisme mungkin telah berganti
rupa, namun jejak dan polanya sering kali belum benar-benar usai, melainkan
terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Bagi Anda yang menghargai kedalaman filosofis
dalam karya seni berukuran ringkas, seri "How It Go, How It Ends"
kini tersedia untuk Anda miliki melalui rasanyalelangkarya.com dengan harga Rp3.750.000.
Karya ini adalah pilihan tepat bagi kolektor yang mencari narasi sejarah yang
kuat namun disajikan secara estetis dan modern. Segera kunjungi laman kami
untuk mengamankan koleksi berharga ini dan jadikan ia bagian dari ruang
kontemplasi di hunian Anda sebelum masa lelang berakhir.