Pasar Seni ITB 2025 bukan hanya pesta karya dan kreativitas visual,
tetapi juga jadi ajang fashion show
dadakan yang menampilkan kebebasan berekspresi pengunjungnya. Sejak pagi, area
kampus Institut Teknologi Bandung dipenuhi lautan manusia dengan gaya busana
yang unik, eksperimental, dan penuh warna. Dari ujung rambut sampai ujung kaki,
setiap orang tampak membawa cerita dan identitasnya masing-masing.
Outfit nyentrik para pengunjung benar-benar mencuri perhatian. Ada
yang datang dengan outfit cosplay tokoh anime Jepang, ada pula yang mengenakan
tema baju old money era tahun 90-an,
ada yang memadukan warna kontras, ada yang terinspirasi dari karakter tas yang
digunakan, bahkan ada yang mengenakan outfit, seperti skin dalam game roblox yang tengah ramai akhir-akhir
ini. Bagi sebagian orang, ini mungkin terlihat ‘aneh’, tetapi di Pasar Seni
ITB, keanehan justru dirayakan. Inilah ruang di mana batas antara seni dan diri
pribadi menjadi cair dan setiap orang adalah kanvas hidup.
Kebebasan berekspresi lewat busana menjadi tema tak tertulis di
setiap langkah pengunjung. Tidak ada aturan berpakaian, tidak ada batasan gaya,
dan tidak ada pandangan sinis. Justru, semakin unik seseorang berpakaian,
semakin banyak senyum dan kamera yang mengarah padanya. Di antara tawa dan
musik yang mengalun, outfit-outfit itu seolah berbicara, “Ini aku dan aku bebas
mengekspresikannya.”
Bagi para mahasiswa dan seniman muda, outfit di Pasar Seni bukan
sekadar gaya, melainkan bentuk pernyataan sosial. Mereka ingin menunjukkan
bahwa seni tidak hanya tergambar di kanvas atau patung, tetapi juga bisa hidup
di tubuh manusia. Mode menjadi bahasa, dan setiap pengunjung menulis kalimatnya
sendiri lewat warna, bentuk, dan tekstur yang ia pilih. Jadi, pasar Seni ITB
2025 menjadi bukti bahwa kebebasan berekspresi di Indonesia tumbuh subur di
ruang-ruang kreatif.
(Sumber gambar: itb.ac.id)