Dalam dunia bisnis yang dinamis, kemampuan sebuah jenama untuk bertahan di tengah gempuran puluhan kompetitor adalah sebuah seni tersendiri. Hal ini dikupas tuntas oleh Sebastian Gary P. dari PT Marifood dalam talkshow di sela pameran tunggal "Break The Loops". Menghadapi sekitar 22 jenama pesaing, Marifood menerapkan strategi geografis yang cerdik dengan menjadikan Semarang sebagai pusat operasi. Posisi Semarang yang strategis di tengah Pulau Jawa memudahkan jalur distribusi baik ke wilayah barat maupun timur Indonesia, sebuah langkah logistik yang menjadi kunci efisiensi perusahaan.
Namun, strategi tidak hanya berhenti pada jalur distribusi. Marifood secara rutin melakukan pembaruan pada kemasan, logo, hingga desain sachet untuk menjaga relevansi visual. Inovasi rasa pun terus digali dengan mengangkat kekayaan buah lokal Indonesia melalui jenama unggulannya, Marimas.
Menariknya, Marifood sadar betul bahwa perilaku konsumen terus berubah, terutama dengan munculnya Generasi Alpha. Sebagai langkah adaptif, perusahaan berkolaborasi dengan kreator konten populer, Willie Salim, yang ditunjuk sebagai Chief Happiness Officer (CHO). Langkah ini merupakan strategi pemasaran modern untuk mendekatkan jenama dengan karakteristik audiens masa kini yang lebih menyukai pendekatan personal dan penuh keceriaan. Adaptasi inilah yang membuat Marifood tetap berdiri kokoh meski industri minuman serbuk kian padat pemain.