Pasar Seni Institut Teknologi Bandung Tahun 2025 digelar selama dua
hari dari tanggal 18 sampai 19 Oktober 2025 di area kampus pusat ITB. Salah
satu hal yang menjadi perhatian publik adalah stan yang menyajikan softex
sebagai media tanam tauge. Hal tersebut merupakan wujud kebebasan dan
keberanian berekspresi. Karya ini tampil sederhana, tapi maknanya begitu dalam
dan menggugah.
Di dalam stan sederhana dengan meja yang dibalut kain hitam,
pengunjung akan menemukan beberapa lembar Softex yang dijajarkan rapi di atas
meja, masing-masing menjadi “tanah” bagi kecambah kecil yang tumbuh di atasnya.
Tanaman mungil itu tumbuh dari biji-bijian yang sengaja diletakkan di atas
pembalut wanita yang berfungsi sebagai media tanam. Pemandangan ini jelas tidak
biasa, bahkan terkesan provokatif. Namun, justru di situlah kekuatannya — seni
yang berani berbicara lewat simbol dan kontras.
Secara ilmiah, sebenarnya menanam tauge di atas pembalut (softex)
merupakan eksperimen sederhana yang berhasil karena pembalut berfungsi sebagai
media tanam yang menyediakan kondisi esensial untuk proses perkecambahan.
Eksperimen ini mendemonstrasikan bahwa benih kacang hijau tidak memerlukan
tanah untuk memulai perkecambahan, melainkan hanya memerlukan air, oksigen, dan
suhu yang tepat.
karya ini merupakan refleksi tentang kesuburan, tubuh perempuan,
dan siklus kehidupan. Softex, yang selama ini dianggap benda pribadi dan tabu
dibicarakan di ruang publik, dihadirkan secara terbuka dan dipadukan dengan
kecambah sebagai simbol pertumbuhan dan harapan baru. Perpaduan keduanya seolah
menantang cara pandang masyarakat terhadap tubuh dan alam: keduanya adalah
sumber kehidupan, tetapi sering kali diabaikan atau disembunyikan.
Reaksi pengunjung pun beragam. Ada yang kagum dengan keberanian ide
tersebut, ada pula yang tampak bingung dan bertanya-tanya. Namun, itulah tujuan
karya ini, untuk mengajak publik berdialog, bukan sekadar memandangi estetika,
sehingga seni yang muncul dalam stan yang menyajikan tauge di atas pembalut
menjadi perbincangan banyak orang. Dalam unggahan di aplikasi Tiktok banyak
warganet yang menanyakan dimana letak seninya, kemudian terdapat komentar yang
cukup menarik, yakni ”yang bilang seninya dimana, ya itu di pemikiran uniknya,
elu pada kepikiran nggak? Nah di situ letak serunya”.
Pasar Seni ITB 2025 pun kembali membuktikan diri sebagai ruang
bebas ide — tempat di mana hal-hal yang dianggap tabu bisa tumbuh menjadi
wacana baru, seperti kecambah kecil yang berani hidup di atas lembar Softex:
lembut, tetapi kuat, sederhana, tapi penuh makna.
(Sumber gambar: Tiktok Rey Happy Kids)