Keindahan pantai sering kali menjadi pelarian manusia dari hiruk-pukuk dunia. Namun, melalui karya berjudul "Pantai Plastik" (2023), seniman Airlangga Satryatama Wisnumurti mengajak kita untuk berhenti sejenak dan melihat realitas yang menyakitkan. Dalam pameran tunggalnya yang bertajuk Unspoken: Antara Ingatan dan Imajinasi, Airlangga menangkap sebuah ironi besar yang kini menghiasi lanskap pesisir modern.
Lukisan akrilik berukuran 90x60 cm ini bukan sekadar tangkapan visual, melainkan sebuah manifestasi dari kegelisahan batin. Airlangga mengisahkan bagaimana pengalaman pribadinya saat menyentuh pasir pantai justru berujung pada rasa jijik dan kemarahan. Bukannya butiran alami yang ia rasakan di bawah telapak kaki, melainkan tekstur asing dari limbah plastik yang mengeras dan tertimbun.
Pesan yang ingin disampaikan sangatlah dalam: manusia perlahan mulai menormalisasi pencemaran. Kita seolah memaklumi keberadaan sampah sebagai bagian dari paket pengalaman berlibur. Melalui goresan warna yang kontras, "Pantai Plastik" menantang kita untuk bertanya pada diri sendiri: apakah kita akan terus diam hingga alam benar-benar kehilangan identitas aslinya? Karya ini adalah pengingat bahwa di balik estetika sebuah lukisan, tersimpan jeritan bumi yang menuntut kesadaran kita semua.