Sejarah sering kali kita bayangkan sebagai
momen penuh drama dan heroisme. Namun, dalam pameran tunggal bertajuk "Unspoken:
Antara Imajinasi dan Ingatan", seniman Airlangga Satryatama Wisnumurti
menawarkan sudut pandang yang menggugah nalar melalui karyanya, "Cerita
Akhir Pangeran Diponegoro" (2023).
Lukisan akrilik di atas kanvas berukuran 90x60
cm ini merupakan reinterpretasi radikal atas mahakarya Raden Saleh. Jika Raden
Saleh merekam ketegangan dan amarah, Airlangga justru menghadirkan suasana yang
mengejutkan: kebanalan. Di sana, momen penangkapan sang pangeran luruh menjadi
aktivitas harian yang santai—bermain catur, makan, hingga melukis.
Karya ini bukan sekadar simulasi artistik,
melainkan kritik tajam terhadap cara kita memandang sejarah. Airlangga
mempertanyakan apakah pengkhianatan dan kekerasan kini telah dianggap sebagai
rutinitas administratif yang lumrah. Penangkapan sosok simbol perlawanan bangsa
digambarkan tanpa beban moral, seolah menjadi tontonan biasa yang acuh tak
acuh.
Saat ini, karya yang penuh kedalaman filosofis
tersebut ditawarkan dengan nilai Rp2.999.999. Bagi para kolektor, lelang karya
ini bukan sekadar transaksi kepemilikan materi, melainkan undangan untuk
merenungi kembali: apakah nilai perjuangan kita memang memudar, ataukah kita
yang kian mahir menormalisasi tragedi? Sebuah refleksi penting yang kini
menunggu untuk berpindah tangan dan terus menyuarakan pesannya.