Kala Tragedi Menjadi Rutinitas: Memaknai Ulang "Cerita Akhir Pangeran Diponegoro"

Kamis, 02 April 2026 00:25:12

Sejarah sering kali kita bayangkan sebagai momen penuh drama dan heroisme. Namun, dalam pameran tunggal bertajuk "Unspoken: Antara Imajinasi dan Ingatan", seniman Airlangga Satryatama Wisnumurti menawarkan sudut pandang yang menggugah nalar melalui karyanya, "Cerita Akhir Pangeran Diponegoro" (2023).

Lukisan akrilik di atas kanvas berukuran 90x60 cm ini merupakan reinterpretasi radikal atas mahakarya Raden Saleh. Jika Raden Saleh merekam ketegangan dan amarah, Airlangga justru menghadirkan suasana yang mengejutkan: kebanalan. Di sana, momen penangkapan sang pangeran luruh menjadi aktivitas harian yang santai—bermain catur, makan, hingga melukis.

Karya ini bukan sekadar simulasi artistik, melainkan kritik tajam terhadap cara kita memandang sejarah. Airlangga mempertanyakan apakah pengkhianatan dan kekerasan kini telah dianggap sebagai rutinitas administratif yang lumrah. Penangkapan sosok simbol perlawanan bangsa digambarkan tanpa beban moral, seolah menjadi tontonan biasa yang acuh tak acuh.

Saat ini, karya yang penuh kedalaman filosofis tersebut ditawarkan dengan nilai Rp2.999.999. Bagi para kolektor, lelang karya ini bukan sekadar transaksi kepemilikan materi, melainkan undangan untuk merenungi kembali: apakah nilai perjuangan kita memang memudar, ataukah kita yang kian mahir menormalisasi tragedi? Sebuah refleksi penting yang kini menunggu untuk berpindah tangan dan terus menyuarakan pesannya.

Author
Written by
Sefiyan Eza Nur Hidayat

Penulis di platform Rasanya Lelang Karya yang berfokus pada seni dan budaya.

Editor
Edited by
Desyfa Cahya Aina

Editor konten di platform Rasanya Lelang Karya.